Kepala Dinas Pariwisata Kalsel Saat Di Wawancara Awak Media
BANJARMASIN, Lensa-Banua. Com – Ekosistem perfilman Kalimantan Selatan kembali mendapatkan panggung penting setelah penayangan empat film pendek produksi sineas lokal Banua. Salah satunya, “Sisigan Manga Riau”, berhasil mencuri perhatian Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, Iwan Fitriady, yang menyaksikan pemutaran perdana bersama timnya. Selasa (22/11)
Dalam komentarnya, Iwan mengaku terkesan dengan kualitas karya kreator lokal meski berdurasi singkat. Menurutnya, alur cerita film yang ditonton sulit ditebak dan memiliki kekuatan naratif yang solid.
“Saya tidak menduga alur ceritanya sebagus itu. Ending-nya susah ditebak, dan itu ciri film yang baik. Satu dari empat film yang kami tonton sudah menunjukkan kemampuan sineas Banua,” ujarnya.
Iwan menegaskan bahwa langkah fasilitasi pembuatan film ini merupakan bukti nyata komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam mengembangkan subsektor ekonomi kreatif, khususnya film, animasi, dan video—yang kini menjadi favorit generasi muda.
“Dari 17 subsektor ekonomi kreatif, setelah kuliner, fashion, dan kriya, film animasi dan video menjadi subsektor yang paling digandrungi generasi Z. Karena itu, kami memberi ruang dan dukungan kepada sineas Banua,” jelasnya.
Pemprov Kalsel memberikan fasilitasi dalam bentuk pendanaan dan kurasi karya. Meski hanya empat film yang terpilih, Iwan memastikan rumah produksi lain tetap memiliki kesempatan serupa di masa mendatang.
“Kalau diberi ruang dan kesempatan, saya yakin film-film Banua dapat bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Komitmen kami jelas: terus mendukung dan mengawal perkembangan ekonomi kreatif,” tegasnya.
Sutradara lokal Banua, Budi Ismanto, memberikan apresiasi kepada Forum Sinar Soebanua serta Dinas Pariwisata yang menjalin kolaborasi positif untuk mendorong industri kreatif.
Dalam pandangannya, Kalimantan Selatan memiliki potensi cerita yang luar biasa, khususnya genre horor.
“Untuk horor saja, kita punya 16 urban legend. Itu baru satu genre. Potensi cerita dari kehidupan dan budaya masyarakat Banua sangat kaya,” ujar Budi.
Ia menilai secara ide dan cerita, film-film pendek yang diputar sangat kuat dan menarik. Kendati demikian, ia mengakui masih ada tantangan dalam hal teknik dan fasilitas produksi agar kualitas visual dapat menyaingi standar film bioskop.
Lebih jauh, Budi menekankan bahwa film bukan sekadar tontonan, tetapi industri besar yang mampu memberi dampak ekonomi luas.
“Satu produksi film minimal menyerap 150 tenaga kerja. Efek domino-nya luar biasa: pariwisata terangkat, UMKM bergerak, hotel dan transportasi hidup, dan banyak sektor lain ikut terdongkrak,” paparnya.
Menurutnya, ekosistem perfilman Indonesia sudah berkembang pesat. Film-film nasional kini menjadi tuan rumah di layar bioskop dan platform digital. Hal ini menjadi peluang besar bagi daerah seperti Kalimantan Selatan untuk ikut naik kelas.
Ia mencontohkan keberhasilan film bertema lokal seperti Saranjana dan proyek lain bertema kuyang yang sedang digarap sejumlah sineas.
Ia sendiri menargetkan tahun depan dapat merilis film layar lebar bertema budaya Banua berjudul Di pirunduk.
Budi dan para pelaku kreatif berharap pemerintah dan investor dapat berkolaborasi membangun industri film secara berkelanjutan.
“Pasarnya sudah luas, fasilitas tayang kini tidak hanya bioskop tetapi juga platform digital. Kalau ini dikelola baik, bukan mustahil Kalsel menjadi barometer perfilman nasional di luar Jawa,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa gagasan film Sisigan Manga Riau juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produksi layar lebar.
Melihat antusias dan kualitas karya sineas lokal, Pemprov Kalsel memastikan dukungan akan kembali digulirkan untuk program berikutnya. Iwan Fitriady menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berhenti pada pembiayaan, tetapi juga berkomitmen mengembangkan ruang-ruang kolaborasi baru.
“Ini baru langkah awal. Kami akan terus melanjutkan fasilitasi agar kreativitas anak Banua benar-benar memiliki panggung yang layak,” pungkasnya.
Dengan potensi cerita kaya, dukungan pemerintah, serta peluang pasar nasional yang semakin terbuka, industri film Kalimantan Selatan memiliki momentum besar untuk berkembang.
Tinggal menunggu satu langkah lagi: menyatukan kekuatan pemerintah, komunitas kreatif, dan investor agar Banua benar-benar menjadi rumah baru bagi film-film berkualitas nasional.