
BANJARBARU,Lensa-Banua. Com – Kalimantan Selatan kembali menorehkan prestasi nasional dengan berhasil menempati peringkat pertama dalam Indeks Ketahanan Pangan Nasional Tahun 2025, dengan skor capaian sebesar 81,98 poin.
Capaian ini merupakan hasil dari sinergi berbagai pihak dalam memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas pangan di seluruh wilayah provinsi. Rabu (8/10)
Meski patut diapresiasi, Kepala Dinas Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel, Syamsir Rahman, menegaskan bahwa prestasi ini tidak boleh mengaburkan persoalan-persoalan mendasar yang masih dihadapi petani kecil di lapangan.
“Kita bersyukur atas pencapaian ini. Namun, capaian indeks yang tinggi tidak berarti bahwa seluruh persoalan di sektor hulu sudah teratasi, terutama yang dihadapi oleh petani kita. Mereka masih berhadapan dengan tantangan klasik, seperti keterbatasan akses terhadap pupuk, alat pertanian, dan benih unggul, kondisi irigasi yang belum merata, harga jual hasil panen yang fluktuatif, hingga kerentanan terhadap gagal panen akibat cuaca ekstrem dan bencana,” ujar Syamsir.
Menurutnya, indeks pangan memang menjadi indikator penting dalam menilai ketahanan pangan sebuah wilayah, namun substansi utama dari ketahanan pangan adalah kesejahteraan petani sebagai pelaku utama produksi.
“Kita tidak bisa bicara soal ketahanan pangan jangka panjang tanpa memastikan bahwa petani kita hidup layak, memiliki akses yang adil terhadap input produksi, dan terlindungi dari kerugian yang tidak mereka sebabkan sendiri. Oleh karena itu, indeks pangan yang tinggi ini justru menjadi pengingat bahwa tanggung jawab kita semakin besar,” tambahnya.
Sebagai bentuk komitmen, Syamsir menjelaskan , DPKP Kalsel telah dan akan terus memperkuat berbagai program intervensi yang menyentuh langsung kebutuhan petani, antara lain : Subsidi dan fasilitasi input produksi, seperti pupuk bersubsidi, benih unggul, serta alat dan mesin pertanian (alsintan), Perbaikan dan pembangunan sistem irigasi dan pengairan di lahan pertanian potensial, dan kemudahan akses terhadap kredit mikro dan pembiayaan pertanian, juga Penguatan sistem jaminan harga lokal untuk melindungi petani dari anjloknya harga panen.
“Kami juga mendorong pembentukan kelompok tani dan koperasi tani yang kuat agar distribusi bantuan dan program lebih efektif dan berkelanjutan. Selain itu, upaya literasi pertanian modern dan regenerasi petani muda juga menjadi fokus kami,” jelasnya.
Syamsir Rahman mengungkapkan, pihaknya menegaskan, bahwa dengan perbaikan sistem yang berkelanjutan dan sinergi lintas sektor, ketahanan pangan dan kesejahteraan petani bisa berjalan beriringan.
“Kami ingin membangun optimisme. Bahwa dengan intervensi yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan keberpihakan terhadap petani kecil, ketahanan pangan kita tidak hanya kuat di atas kertas, tetapi juga kokoh di akar rumput. Inilah komitmen kami di DPKP Kalsel,” tutupnya.
Admin
